Saturday, January 21, 2012

Dakwah (dapet dr message di facebook)

Saturday, January 21, 2012 0
 Ghazwul Fikri
dikutip oleh Heru Prasetiyo

*artikel ini aku dapat dari seorang teman di facebook. semoga dapat dijadikan pelajaran bagi kita semua.
sebelumnya thanks buat Yusrina Alyani Tamimi,

Ghazwul fikri berasal dari kata ghazw dan al-fikr, yang secara harfiah dapat diartikan "Perang Pemikiran". Yang dimaksud ialah upaya-upaya gencar pihak musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala untuk meracuni pikiran umat Islam agar umat Islam jauh dari Islam, lalu akhirnya membenci Islam, dan pada tingkat akhir Islam diharapkan habis sampai ke akar-akarnya. Upaya ini telah berlangsung sejak lama dan terus berlanjut hingga kini.

Ghazwul fikri dimulai ketika kaum salib dikalahkan dalam sembilan kali peperangan besar. Kemenangan kaum muslimin tersebut sangat spektakuler, sebab pasukan muslim yang diterjunkan dalam pertempuran berjumlah sedikit. Pasukan Khalid bin Walid, misalnya pernah berperang dengan jumlah tentara sekitar 3000 personil, sedangkan pasukan Romawi yang dihadapi berjumlah 100.000 personil, hampir 1 berbanding 35. Allah memenangkan kaum muslimin dalam pertempuran tersebut. Kekalahan demi kekalahan itu akhirnya menyebabkan kaum salib menciptakan taktik baru. Di bawah pimpinan Raja Louis XI, taktik baru tersebut dilancarkan. Caranya bukan lagi berupa penyerangan fisik, tetapi musuh-musuh Allah itu mengirimkan putera-putera terbaik mereka ke kota Makkah untuk mempelajari Islam. Niat atau motivasi mereka tentu bukan untuk mengamalkan, melainkan untuk menghancurkannya. Pembelajaran dengan niat jahat itu ternyata berhasil. Tafsir dikuasai, hadist dimengerti, khazanah ilmu Islam digali. Setelah sampai ke tahap dan tingkat ahli, para pembelajar Islam dari kaum Salib ini kembali ke Eropa, lalu membentuk semacam Research and Development (Penelitian dan Pengembangan) untuk mengetahui kelemahan umat Islam agar dapat mereka kuasai.

Kesungguhan mereka dalam mempelajari Islam tersebut memang luar biasa. Sampai dalam sejarah diungkapkan kisah seorang pembelajar Islam dari kaum salib yang rela meninggalkan anak istrinya hanya untuk berkeliling ke negeri-negeri Islam guna mencari kelemahan negeri-negeri Islam itu. Di antara pernyataan mereka ialah, "Percuma kita berperang melawan umat Islam selama mereka berpegang teguh pada agama mereka. Jika komitmen mereka terhadap agama mereka kuat, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Oleh karena itu, tugas kita sebetulnya adalah menjauhkan umat Islam dari agama mereka, barulah kita mudah mengalahkan mereka.” Gleed Stones, mantan perdana menteri Inggris, juga mengatakan hal yang sama, "Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama di dada pemuda-pemuda Islam al-Qur'an masih bergelora. Tugas kita kini adalah mencabut al-Qur'an hati mereka, baru kita akan menang dan menguasai mereka.”

Dalam konteks ini, al-Qur'an mengatakan, artinya, "Sesungguhnya setan bagi kamu merupakan musuh, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Sesungguhnya setan itu mengajak hizb (golongan) nya agar mereka menjadi penghuni neraka." (QS.Faathir : 6).

Setan yang merupakan musuh umat Islam itu, menurut ayat 112 surat al-An'aam bukan hanya dari kalangan jin dan Iblis saja, tetapi juga dari kalangan manusia. Setan-setan manusia itu dahulu menghina dan memojokkan serta melecehkan Islam melalui lisan mereka dengan cara sederhana tanpa dukungan hasil teknologi canggih. Tetapi kini, penghinaan dan pemojokan serta pelecehan itu dilakukan dengan pers yang mempergunakan sarana modern yang super canggih. Di sisi lain, musuh-musuh Islam berupa setan manusia itu hebat dan licik. Struktur-struktur dan lembaga-lembaga Internasional, baik politik, mau pun ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, militer dan bidang-bidang penting lainnya hampir seluruhnya berada dalam genggaman mereka. Makanya perputaran roda organisasi dan lembaga-lembaga dunia itu sepenuhnya dapat mereka kendalikan secara sangat sistematis dan akurat tanpa disadari oleh mayoritas umat Islam, yang sebagiannya masih sangat lugu dan belum tersentuh oleh da'wah. Dalam bidang komunikasi, khususnya pers, misalnya, hampir seluruh sumber berita berada dalam 'tangan' mereka, baik yang berskala internasional maupun nasional.

Maka tak dapat dibantah bahwa media massa yang didominasi atau dikuasai oleh kalangan yang anti Islam, yang melihat Islam sebagai ancaman bagi kepentingan politik dan ekonomi mereka, missi yang mereka emban tentu merugikan dan memojok kan Islam. Misalnya berupaya agar masyarakat dunia (terutama kalangan elitnya) membenci Islam dan menjauhinya, serta menanamkan keraguan dalam dada kaum muslimin akan kebenaran dan urgensi Islam di dalam hidup.

Keadaan ini diperburuk lagi oleh kenyataan bahwa di kalangan umat Islam, penguasaan terhadap ilmu komunikasi dan jurnalistik hingga saat ini masih jauh dari memadai. 'Ulama dan orang-orang yang betul betul faham akan Islam secara benar dan kaffah, pada umumnya jarang yang menjadi jurnalis atau penulis. Apa lagi menerbitkan koran atau majalah yang benar-benar membawa misi dakwah dan perjuangan Islam. Sebaliknya wartawan dan penulis yang beragama Islam, termasuk yang berkaliber internasional yang mempunyai semangat sekali pun, banyak yang belum atau tidak memahami Islam secara benar dan kaaffah (totalitas). Artinya, upaya umat Islam meng-counter serangan musuh-musuh Allah itu nyaris tak ada.

Di sisi lain, pers yang diterbitkan orang Islam banyak yang tidak memperjuangkan dan membela Islam, bahkan terkadang menurunkan berita yang memojokkan Islam. Sebab masih tergantung kepada kantor-kantor berita barat/kafir, yang memang selalu memburu berita yang sifatnya merugikan Islam. Padahal berita dari mereka menurut cara yang islami, harus terlebih dahulu ditabayyun (diseleksi), kalau tidak, bisa berbahaya bagi umat Islam. Namun untuk melakukan tabayyun, diperlukan pemahaman Islam yang benar dan universal serta penguasaan jurnalistik yang akurat dengan peralatan canggih. Sementara terhadap kedua hal itu para penulis Muslim belum betul-betul menguasainya secara baik. Ini salah satu di antara kelemahan-kelemahan dan keterbelakangan kita, umat Islam.

Al-Qur'an memberitahukan bahwa Nabi Sulaiman ’alaihis salam pernah menda'wahi ratu negeri Saba' melalui tulisan (berupa sepucuk surat khusus), yang akhirnya ternyata berhasil gemilang dengan masuk Islamnya sang ratu. Kalau korespondensi da'wah sederhana antara Nabi Sulaiman 'alaihis salam dengan ratu Saba' ini boleh dikatakan termasuk bagian dari pers secara sederhana, maka pers dalam arti yang sempit berarti telah eksis pada zaman Nabi-nabi dahulu. Bukan hanya Nabi Sulaiman ’alaihis salam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam pun dalam menda'wahkan Islam kepada raja-raja dan para penguasa suatu negeri pada zamannya, di antaranya mempergunakan tulisan berupa surat yang sederhana, tanpa dukungan hasil teknologi canggih seperti yang dikenal dunia pers kini.

Dalam dunia modern kini, pers ternyata menempati posisi sangat penting, antara lain, dapat membentuk opini umat. Bahkan sering dikatakan bahwa siapa menguasai pers, berarti dapat menguasai dunia. Kalau yang menguasai pers itu orang mukmin, yang benar-benar faham akan dakwah dan memang merupakan Da'i (dalam arti luas), maka pers yang diterbitkannya tentu tidak akan menurunkan tulisan-tulisan yang merugikan Islam, memojokkan kaum Muslim atau menyakitkan umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam. Tetapi kenyataan membuktikan, di dunia ini, tak sedikit pers yang menurunkan aneka bentuk tulisan yang substansi isinya bukan hanya memojokkan Islam dan menyakitkan hati kaum mu'min serta melecehkan al-Qur'an, tetapi lebih lagi dari hanya sekedar itu. Dan keadaan bisa bertambah buruk lagi, kalau para pemimpin umat Islam bukannya memihak Islam, tetapi justru memihak dan membela musuh-musuh Allah subhanahu wata’ala. Na'udzu billaah min dzaalik!

Dahulu, para penjajah menyerang kaum Muslimin dengan senjata bom, meriam dan peluru, dan serangan itu hingga kini sebetulnya masih tetap berlangsung. Hanya yang dijadikan sasaran bukan lagi jasmani, tetapi aqidah ummat Islam. Salah satu tujuannya ialah bagaimana agar fikrah (ideologi) atau 'aqidah umat Islam rusak. Tujuan paling akhir ialah bagaimana agar Islam dan umat Islam berhasil dihabisi riwayatnya dari bumi Allah subhanahu wata’ala ini. Serangan inilah yang disebut ghazwul fikr. Dan senjata yang dipergunakan bukan lagi bom atau peluru tetapi surat kabar, majalah, radio, televisi dan media-media massa lainnya, baik cetak mau pun elektronik, baik yang sederhana, mau pun yang super canggih. Untuk mengantisipasi atau mengimbangi serbuan ghazwul fikr (perang ideologi) itu, umat Islam antara lain harus mempunyai pers yang tangguh, yang dikelola oleh para Ulama dan jurnalis Muslim yang betul-betul faham Islam secara benar; dengan peralatan dan sarana teknologi yang memadai dan mampu menampilkan tulisan dan berita yang benar serta baik secara menarik dan bijaksana.

Tulisan-tulisan yang diturunkan atau diproduksinya tentu harus menarik dan akurat bermisi Islam, agar dapat memberikan pemahaman tentang al-Islam yang benar kepada pembacanya, dan sekaligus diharapkan dapat meredam dan mengantisipasi serbuan pers sekuler,terutama yang tak henti-hentinya menyerang Islam dengan berbagai cara.

Satu hal lagi yang tidak boleh kita dilupakan adalah, munculnya musuh-musuh Islam dari dalam tubuh ummat Islam sendiri tanpa kita sadari. Misalnya adanya 'tokoh' Islam yang diberi predikat Kiyai Haji atau profesor doktor, yang konotasinya pembela Islam, sehingga dikira umat Islam, ia memang pembela Islam, padahal sebaliknya, termasuk dalam hal ini Jaringan Islam Liberal (JIL). Sebetulnya, ini merupakan cerita lama, sebab sejak zaman Nabi-nabi dahulu, selalu ada saja manusia-manusia yang mengaku Muslim, tetapi pada hakikatnya merongrong atau merusak bahkan menghancurkan Islam dari dalam. Kadang-kadang menimbulkan perpecahan di kalangan kaum Muslimin. Sebagian mereka mengaku beragama Islam, namun takut (phobi) kalau Islam berkembang dan eksis di muka bumi Allah subhanahu wata’ala yang fana ini. Kalau mereka menerbitkan buku, koran, majalah, tabloid dan sejenisnya, mereka takut menulis tentang Islam. Kalau pun toh menulis juga, isinya tentu dipoles, direkayasa sedemikian rupa, sehingga tidak mengungkapkan kenyataan yang harus diungkapkan, dan menyampai kan apa-apa yang seharusnya disampaikan. Na'udzu billaah min dzaalik! Mereka laksana musuh dalam selimut, menggunting dalam lipatan.

Mudah-mudahan Allah memberi kita kemampuan untuk menyeleksi bahan bacaan serta memilih media informasi yang kita dengar dan saksikan setiap hari. Dan yang tak kalah penting, semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan hati kita cinta terhadap Islam dan selalu menda'wahkan dan memperjuangkannya, sampai akhirnya Dia memanggil kita ke sisi-Nya selama-lamanya. Amin ya Rabbal ’alaimin (M.Hanafi Maksum)

Thursday, January 5, 2012

Cerpen ke-4 (My Lfe My Adventure..)

Thursday, January 5, 2012 0
Ada banyak jalan menuju negeri Ataturk…
Oleh Heru Prasetiyo

Satu hal yang aku syukuri. Aku pernah naik pesawat! Memang konyol tapi emang bener. Pengalaman yang sangat menyenangkan. Naik motor pernah, bis pernah, andong pernah, becak pernah, sepeda ontel pernah, kapal pernah, rollercoaster pernah, pesawat pernah, trem pernah, dll.. yang belum pernah: kereta api ekonomi, mobil ferari… hahaha..

Skill merantau aku dapatkan dari ayahku. Waktu ayahku masih muda, dia sudah menjelajahi banyak kota yang ada di Indonesia terutama di jawa. Ayahku lahir di jepara. Aku pernah diceritain.. “waktu ayah muda dulu, ayah sudah berani merantau ke bandung tanpa bekal apapun, hidup prihatin, makan seadanya. Yah begitulah merantau.. asyik deh” kota yang pernah dijelajahi ayahku, bandung, Jakarta, Surabaya, magelang, dll. Banyak pokoknya.. yang terakhir sebelum aku berangkat, ayahku sudah pergi ke bali. Hah. Aku ngiri pokoknya. Dan hebatnya lagi, ayahku merantau untuk bekerja. Kadang setahun sekali baru pulang. Salut deh dengan perjuanganya.

Skill tersebut turun pada mbakyuku dan aku. Mbakyuku juga udah banyak pergi keluar kota, tapi kebanyakan maen. Haha.. kalau aku keluar kota untuk belajar. Rekor merantau paling jauh adalah di turki. Dan aku yang memecahkanya. Hehe. Merantau itu menyenangkan!!

 ***

Sedikit cerita mengapa aku bisa nyasar di turki. Aku memutuskan untuk belajar di turki atas dasar nekat. 

Waktu itu di sbbs sragen, sekolah smaku,…

Setelah menghabiskan ujian dan kebanyakan wasting time di sekolah, aku dan teman2ku dipanggil oleh abiku, bang adrison. Pagi itu aku belum mandi, seperti biasa. Kami langsung pergi ke kantor guru entah mau ngapain. Ternyata disana kami disuruh mengisi persetujuan ke turki bagi yang mau. Di saat itu aku masih bingung memilih turki ato Indonesia, aku juga belum bicara ma orangtuaku akan hal ini. Keputusan ada ditanganku sepenuhnya. Ada beberapa temenku yang gak ambil. Aku tambah bingung. Yakin, waktu itu otaku berpikir cepet banget. Aku mempertimbangkan semua kemungkinan. Baik buruknya, manfaatnya, pokoknya mumet banget waktu itu. Aku lihat temenku yang memilih ambil, aku lihat dia sejenak. Ada sebuah kemantapan. “temenku aja berani ambil, kenapa aku enggak.. bismillah.. semoga ini jalan yang terbaek buatku” dengan sedikit keberanian aku memutuskan untuk kuliah di turki.

Aku tahu ini merupakan keputusan sepihak karena aku belum bermusyawarah dengan orangtuaku. Tidak seperti yang laen yang udah niat mau ke turki. Yah, inilah pertamakalinya aku mengambil tindakan untuk masa depanku dalam waktu yang singkat. Dan inilah aku. Aku gak pernah menyesali keputusanku. Setelah itu aku menginformasikan pada ortuku dirumah dan dengan pedenya aku ngomong begini…

” mi, aku ambil tuki lo.. gak papa to.”

“ya gakpapa.. kamu yakin?”

“yosh! aku yakin banget.. nganu.. untuk uang tiket dan laen2 sejumlah 10 jt.. 7 jt buat tiket, 2 jt uang saku, dan 500 rb buat visa. Sisanya buat beli koper dan barang2 laen.. hehe.”

“oke..”

“mbayarnya secepatnya..”

“tut..tuuuut.tutttt..” telpon mati. Aku tahu mamiku pasti syok berat. Entah apa yang dipikirkanya. Aku tahu mamiku orangnya mau menanggung beban sendiri dan masih bisa tersenyum pada orang lain meskipun sebenarnya mamiku sedang sangat bingung dan kesusahan. Sifat ini turun ke aku. Haha.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana caranya mamiku mendapatkan uang sebanyak itu secara sepontan. Ajaib. Dan pastinya itu sangat membebaninya.

Alasan utama aku memilih kuliah di turki adalah untuk meringankan beban orangtua. Bagaimana tidak, coba bayangkan… kuliah di Indonesia mahal! Bahkan umm pun sekarang juga mahal. Belum lagi transport, makan, ngekos, uang saku, dll..pokoknya mahal kuliah di Indonesia. Sedangkan aku memilih turki karena lebih murah banget. Sekolah udah dapet beasiswa, makan, tempat tinggal gratis, uang saku dikasih. Mantap to.. makanya, untuk membantu ortu, aku memilih turki.

***

Aku dan temanteman take off dari Indonesia menuju turki pada tanggal 11 juli 2011 naik Turkish airlines. Sebulan sebelum keberangkatan, kami dikarantina di semesta bbs, semarang. Kurang lebih separuhnya kami membuang waktu untuk main dan tidur. Selama 2 minggu pertama kami belajar bahasa turki. Selebihnya digunakan untuk maen cs, mendaftar di universitas sembari menunggu visa turun. Sebulan yang sangat membosankan.

Mendaftar universitas di turki butuh perjuangan. Kami harus mencari informasi dari internet tentang syarat dan ketentuanya. Aku lumayan frustasi Karena website universitas di turki pakai bahasa turki. Oh, menyebalkan sekali. Pada waktu itu ada univ yang sudah mulai pendaftaran yaitu metu dan erciyes.  Tanpa piker panjang aku langsung ndaftar. Persyaratan lumayan mudah,untuk metu, kita tinggal masuk websitenya dan mendaftar dari situ. Lalu mbayar uang sebesar 100 lira. Beres. Satu hal yang bikin bejo, nilai uan murni dipakai untuk syarat pendaftaran dan Alhamdulillah nilai uanku lumayan bagus.

Yak hari H keberangkatan. Kami datang ke bandara naik bus. Kami menunggu di bandara soekarnohatta dari pagi sampe sore. Karena pesawat berangkat pada sore hari. Terpaksa kami menunggu dengan bosan di bandara karena bis datangnya kepagian. Kami terlihat seperti gembel di bandara. Hahaha..
Itulah jalanku menuju negeri Ataturk. Walaupun susah, bosan, bejo.. tapi semua ini sungguh menyenangkan. Banyak pengalaman bersama teman2 untuk mencapai suatu tujuan. Dan aku yakin, kita akan sukses suatu saat nanti. Semangat! Perjuangan baru saja dimulai.. hahahahaa..

***

 
Heru Prasetiyo ◄Design by Pocket, BlogBulk Blogger Templates | Distributed by Blogger Styles | Credit Card Offers