Ada banyak jalan menuju negeri Ataturk…
Oleh Heru Prasetiyo
Satu hal yang aku syukuri. Aku pernah naik pesawat! Memang konyol tapi emang bener. Pengalaman yang sangat menyenangkan. Naik motor pernah, bis pernah, andong pernah, becak pernah, sepeda ontel pernah, kapal pernah, rollercoaster pernah, pesawat pernah, trem pernah, dll.. yang belum pernah: kereta api ekonomi, mobil ferari… hahaha..
Skill merantau aku dapatkan dari ayahku. Waktu ayahku masih muda, dia sudah menjelajahi banyak kota yang ada di Indonesia terutama di jawa. Ayahku lahir di jepara. Aku pernah diceritain.. “waktu ayah muda dulu, ayah sudah berani merantau ke bandung tanpa bekal apapun, hidup prihatin, makan seadanya. Yah begitulah merantau.. asyik deh” kota yang pernah dijelajahi ayahku, bandung, Jakarta, Surabaya, magelang, dll. Banyak pokoknya.. yang terakhir sebelum aku berangkat, ayahku sudah pergi ke bali. Hah. Aku ngiri pokoknya. Dan hebatnya lagi, ayahku merantau untuk bekerja. Kadang setahun sekali baru pulang. Salut deh dengan perjuanganya.
Skill tersebut turun pada mbakyuku dan aku. Mbakyuku juga udah banyak pergi keluar kota, tapi kebanyakan maen. Haha.. kalau aku keluar kota untuk belajar. Rekor merantau paling jauh adalah di turki. Dan aku yang memecahkanya. Hehe. Merantau itu menyenangkan!!
***
Sedikit cerita mengapa aku bisa nyasar di turki. Aku memutuskan untuk belajar di turki atas dasar nekat.
Waktu itu di sbbs sragen, sekolah smaku,…
Setelah menghabiskan ujian dan kebanyakan wasting time di sekolah, aku dan teman2ku dipanggil oleh abiku, bang adrison. Pagi itu aku belum mandi, seperti biasa. Kami langsung pergi ke kantor guru entah mau ngapain. Ternyata disana kami disuruh mengisi persetujuan ke turki bagi yang mau. Di saat itu aku masih bingung memilih turki ato Indonesia, aku juga belum bicara ma orangtuaku akan hal ini. Keputusan ada ditanganku sepenuhnya. Ada beberapa temenku yang gak ambil. Aku tambah bingung. Yakin, waktu itu otaku berpikir cepet banget. Aku mempertimbangkan semua kemungkinan. Baik buruknya, manfaatnya, pokoknya mumet banget waktu itu. Aku lihat temenku yang memilih ambil, aku lihat dia sejenak. Ada sebuah kemantapan. “temenku aja berani ambil, kenapa aku enggak.. bismillah.. semoga ini jalan yang terbaek buatku” dengan sedikit keberanian aku memutuskan untuk kuliah di turki.
Aku tahu ini merupakan keputusan sepihak karena aku belum bermusyawarah dengan orangtuaku. Tidak seperti yang laen yang udah niat mau ke turki. Yah, inilah pertamakalinya aku mengambil tindakan untuk masa depanku dalam waktu yang singkat. Dan inilah aku. Aku gak pernah menyesali keputusanku. Setelah itu aku menginformasikan pada ortuku dirumah dan dengan pedenya aku ngomong begini…
” mi, aku ambil tuki lo.. gak papa to.”
“ya gakpapa.. kamu yakin?”
“yosh! aku yakin banget.. nganu.. untuk uang tiket dan laen2 sejumlah 10 jt.. 7 jt buat tiket, 2 jt uang saku, dan 500 rb buat visa. Sisanya buat beli koper dan barang2 laen.. hehe.”
“oke..”
“mbayarnya secepatnya..”
“tut..tuuuut.tutttt..” telpon mati. Aku tahu mamiku pasti syok berat. Entah apa yang dipikirkanya. Aku tahu mamiku orangnya mau menanggung beban sendiri dan masih bisa tersenyum pada orang lain meskipun sebenarnya mamiku sedang sangat bingung dan kesusahan. Sifat ini turun ke aku. Haha.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana caranya mamiku mendapatkan uang sebanyak itu secara sepontan. Ajaib. Dan pastinya itu sangat membebaninya.
Alasan utama aku memilih kuliah di turki adalah untuk meringankan beban orangtua. Bagaimana tidak, coba bayangkan… kuliah di Indonesia mahal! Bahkan umm pun sekarang juga mahal. Belum lagi transport, makan, ngekos, uang saku, dll..pokoknya mahal kuliah di Indonesia. Sedangkan aku memilih turki karena lebih murah banget. Sekolah udah dapet beasiswa, makan, tempat tinggal gratis, uang saku dikasih. Mantap to.. makanya, untuk membantu ortu, aku memilih turki.
***
Aku dan temanteman take off dari Indonesia menuju turki pada tanggal 11 juli 2011 naik Turkish airlines. Sebulan sebelum keberangkatan, kami dikarantina di semesta bbs, semarang. Kurang lebih separuhnya kami membuang waktu untuk main dan tidur. Selama 2 minggu pertama kami belajar bahasa turki. Selebihnya digunakan untuk maen cs, mendaftar di universitas sembari menunggu visa turun. Sebulan yang sangat membosankan.
Mendaftar universitas di turki butuh perjuangan. Kami harus mencari informasi dari internet tentang syarat dan ketentuanya. Aku lumayan frustasi Karena website universitas di turki pakai bahasa turki. Oh, menyebalkan sekali. Pada waktu itu ada univ yang sudah mulai pendaftaran yaitu metu dan erciyes. Tanpa piker panjang aku langsung ndaftar. Persyaratan lumayan mudah,untuk metu, kita tinggal masuk websitenya dan mendaftar dari situ. Lalu mbayar uang sebesar 100 lira. Beres. Satu hal yang bikin bejo, nilai uan murni dipakai untuk syarat pendaftaran dan Alhamdulillah nilai uanku lumayan bagus.
Yak hari H keberangkatan. Kami datang ke bandara naik bus. Kami menunggu di bandara soekarnohatta dari pagi sampe sore. Karena pesawat berangkat pada sore hari. Terpaksa kami menunggu dengan bosan di bandara karena bis datangnya kepagian. Kami terlihat seperti gembel di bandara. Hahaha..
Itulah jalanku menuju negeri Ataturk. Walaupun susah, bosan, bejo.. tapi semua ini sungguh menyenangkan. Banyak pengalaman bersama teman2 untuk mencapai suatu tujuan. Dan aku yakin, kita akan sukses suatu saat nanti. Semangat! Perjuangan baru saja dimulai.. hahahahaa..
***
0 comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.